welcome




Entrance gate to the town of Ponorogo
(courtesy of Josko Petkovic)

Reog Ponorogo INDONESIA vs Tarian Barongan Malaysia ... Siapa Bangsa Pencontek Budaya ?





A masked Bujangga Anom performer flanked by
two female jatilan dancers on stage at the 1992 Grebeg Suro celebrations.
(courtesy of Josko Petkovic)


Reog Ponorogo INDONESIA vs Tarian Barongan Malaysia ... Siapa Bangsa Pencontek Budaya ?


gini critanya:

Seorang teman membuat saya tersentak hari ini, "Njie, budaya kotamu diambil Malaysia."

Kalimat diatas membuat saya langsung berfikir keras ?

"Budaya kotaku ?"

"Iya, Reog Ponorogo itu lho ?"


Apa bedanya coba ? Siapa yang 'mencontek' siapa neh ? yang diberikan oleh teman saya tersebut, saya mulai menelusuri satu per satu hingga sampai di sebuah bagian yang judulnya Tarian Barongan.

Silahkan Anda mengikuti langkah saya masuk ke website Kementerian Kebudayaan, Kesenian, & Warisan Malaysia : http://www.heritage.gov.my/ >> Kesenian >> Tarian >> Tarian Tradisional Melayu >> Tarian Barongan (option ke lima dari atas) Anda akan disuguhi kata-kata seperti ini : Barongan menggambarkan kisah-kisah di zaman Nabi Allah Sulaiman dengan binatang-binatang yang boleh bercakap. Kononnya, seekor harimau telah terlihat seekor burung merak yang sedang mengembangkan ekornya. Apabila terpandang harimau, merak pun melompat di atas kepala harimau dan keduanya terus menari.
Tiba-tiba Pamong (Juru Iring) bernama Garong yang mengiringi Puteri Raja yang sedang menunggang kuda lalu di kawasan itu. Pamong lalu turun dari kudanya dan menari bersama-sama binatang tadi. Tarian ini terus diamalkan dan boleh dilihat di daerah Batu Pahat, Johor dan di negeri Selangor.Kontan saya terperanjat ! Dari fotonya saya yakin betul bahwa itu mirip sekali dengan kesenian dari kota kelahiran saya, Ponorogo - Jawa Timur.

Saya lahir dan besar di Kota Reog ini. Saya hafal setiap bentuk dari Reog, riwayat dan asal-usul kesenian yang juga menjadi simbol dari Propinsi Jawa Timur ini. Silahkan kunjungi website kota Ponorogo, dan Anda akan disuguhi tampilan dari Reog yang mirip dengan Tarian Barongan dari Malaysia ini >> http://reog.ponorogo.go.id/Menurut cerita kelahiran kesenian Reog dimulai pada tahun saka 900. Dilatarbelakangi kisah tentang perjalanan Prabu Kelana Sewandana, Raja Kerajaan Bantarangin yang sedang mencari calon Permaisurinya. Bersama prajurit berkuda, dan patihnya yang setia, Bujangganong.

Apa bedanya coba ? Siapa yang 'mencontek' siapa neh ?
Akhirnya gadis pujaan hatinya telah ditemukan, Dewi Sanggalangit, putri Kediri. Namun sang putri menetapkan syarat agar sang prabu menciptakan sebuah kesenian baru terlebih dahulu sebelum dia menerima cinta sang Raja. Maka dari situlah terciptalah kesenian Reog. Bentuk Reog pun sebenarnya merupakan sebuah sindiran yang maknanya bahwa sang Raja (kepala harimau) sudah disetir atau sangat dipengaruhi oleh permaisurinya (burung merak). Biasanya satu group dalam pertunjukan Reog terdiri dari seorang Warok Tua, sejumlah warok muda, pembarong, penari Bujang Ganong, dan Prabu Kelono Suwandono.

Jumlahnya berkisar antara 20 hingga 30-an orang, peran sentral berada pada tangan warok dan pembarongnya.




Tulisan Reog sendiri asalnya dari Reyog, yang huruf-hurufnya mewakili sebuah huruf depan kata-kata dalam tembang macapat Pocung yang berbunyi: rasa kidung/ingwang sukma adiluhung/Yang Widhi/olah kridaning Gusti/gelar gulung kersaning Kang Maha Kuasa. Penggantian Reyog menjadi Reog-yang disebutkan untuk "kepentingan pembangunan"- saat itu sempat menimbulkan polemik. Bupati Ponorogo Markum Singodimejo yang mencetuskan nama Reog (Resik, Endah, Omber, Girang gemirang) tetap mempertahankannya sebagai slogan resmi Kabupaten Ponorogo. Alur cerita pementasan Reog yaitu warok, kemudian jatilan, Bujangganong, Kelana Sewandana, barulah barongan atau dadak merak di bagian akhir. Ketika salah satu unsur di atas sedang beraksi, unsur lain ikut bergerak atau menari meski tidak menonjol.
Reog modern biasanya dipentaskan dalam beberapa peristiwa seperti pernikahan, khitanan dan hari-hari besar Nasional. Seni Reog Ponorogo terdiri dari beberapa rangkaian 2 sampai 3 tarian pembukaan. Tarian pertama biasanya dibawakan oleh 6-8 pria gagah berani dengan pakaian serba hitam, dengan muka dipoles warna merah.

Para penari ini menggambarkan sosok singa yang pemberani. Berikutnya adalah tarian yang dibawakan oleh 6-8 gadis yang menaiki kuda. Pada Reog tradisionil, penari ini biasanya diperankan oleh penari laki-laki yang berpakaian wanita. Tarian ini dinamakan tari jaran kepang, yang harus dibedakan dengan seni tari lain yaitu tari kuda lumping. Tarian pembukaan lainnya jika ada biasanya berupa tarian oleh anak kecil yang membawakan adegan lucu.

Setelah tarian pembukaan selesai, baru ditampilkan adegan inti yang isinya bergantung kondisi dimana seni Reog ditampilkan. Jika berhubungan dengan pernikahan maka yang ditampilkan adalah adegan percintaan. Untuk hajatan khitanan atau sunatan, biasanya cerita pendekar. Adegan dalam seni Reog biasanya tidak mengikuti skenario yang tersusun rapi.
Disini selalu ada interaksi antara pemain dan dalang (biasanya pemimpin rombongan) dan kadang-kadang dengan penonton. Terkadang seorang pemain yang sedang pentas dapat digantikan oleh pemain lain bila pemain tersebut kelelahan. Yang lebih dipentingkan dalam pementasan seni reog adalah memberikan kepuasan kepada penontonnya. Adegan terakhir adalah singa barong, dimana pelaku memakai topeng berbentuk kepala singa dengan mahkota yang terbuat dari bulu burung merak.

Berat topeng ini bisa mencapai 50-60 kg. Topeng yang berat ini dibawa oleh penarinya dengan gigi. Kemampuan untuk membawakan topeng ini selain diperoleh dengan latihan yang berat, juga dipercaya diproleh dengan latihan spiritual seperti puasa dan tapa. Sumber : berbagai sumberSebagai masyarakat Ponorogo asli, jujur saya sedih dengan adanya berita ini.

Sepertinya budaya asli Indonesia mulai diangkuti satu per satu oleh Malaysia. Sejak kasus Sipadan-Ligitan, Ambalat, pemukulan wasit dan penyiksaan TKI kita di Malaysia, Pematenan lagu Rasa sayange, Ilir-ilir, Indung-Indung, Si Jali-jali, batik, wayang, angklung, dll, saya pribadi sangat menyayangkan sikap Pemerintah Malaysia yang seolah-olah arogan terhadap bangsa serumpunnya, yakni Indonesia. Indonesia ? Kapan Anda sadar akan imperialisme perlahan-lahan seperti ini ?

gimana pemda ponorogo
kayak gini kok ga peduli, di patenkan kek!!!!
artikel ini saya dapat dengan tdk sengaja pada forum multiply

nggak percaya!!!!

klik disini

klono sewandono


A Kelono Sewondono performer:
1992, Grebeg Suro celebrations.
(courtesy of Josko Petkovic)

Hystory


dadak merak

MESSAGES IN DREAMS

King Prabu, unmarried and concerned about succession (he wanted an heir to the throne ), dreamt that he met Princess Dewi. Dreams hold great portent in Indonesia, both then and now, and his prime minister took it as sign that Princess Dewi should be the king’s wife and bear him his heir. His dream came too late, however, because Adipati, the tiger king, had already proposed to the beautiful princess. Classic situation; one eligible and drop-dead-gorgeous princess and two extremely well off, love-sick suitors, forget one of them is a tiger. There would obviously have to be a contest of some sort. Princess Dewi thought about it for a while and decided that she wanted three things from her husband-to-be.

dadak merak & jathil




REOG PONOROGO

Ponorogo is most well known for the reog mask dance, which is said to have been created by one of the kings of Kediri in the 12th century. The performance re-enacts a legendary battle between Pujangga Anom, a minister from the court of Ponorogo, and Singa Barong, guardian spirit of the forest of Lodoyo. The former had aroused the anger of Singa Barong when he stole 150 tigers from the forest, apparently to be offered as a dowry payment for a princess of Kediri, whom the king of Ponorogo wished to marry.

A typical reog troupe, then, usually consists of the principal characters; Singa Barong, wearing an enormous tiger head and peacock feather mask, and his adversary Pujangga Anom. They are accompanied by one or more masked clowns/acrobats, as well as a number of hobby horse dancers, who are said to represent the troops of Pujangga Anom.

The people of Ponorogo have a reputation for being tough, both physically and mentally. The qualities of bravery and daring are fully displayed in a reog performance, where the focus of attention is on a trance dancer supporting a giant mask, often weighing more than 40 kg, between his teeth. The mask is a ferocious, snarling tiger's head, covered in real tiger skin and crowned with a gigantic three meter fan of peacock feathers.

The success of a performance, including the ability of the principal dancer to bear the weight of the mask, is said to depend upon the magical power of the leader of the dance troupe. Known as warok, these men are believed to possess special talents, gained through years of training. One of the unique features of the reog dance is that the hobby horse (jaran kepang) dancers are invariably young boys dressed as women. Known as gemblak, they accompany the warok, who are forbidden close association with females, in their travelling performances.

Contest of Reog dance is presented annually by the local government. Ngebel, a natural lake and batik printing of ponorogo are also worthwhile seeing.